Selasa, 07 April 2009

Mundurnya Sang Petarung Lampung


BANDAR LAMPUNG (Ant): Melihat penampilan dan tutur katanya, Yopie Emeraldi tidak selayaknya menjadi petarung di olahraga keras tarung derajat. Namun, dia tetap berkiprah di tarung derajat sebelum kemudian mundur dari petarung dan konsentrasi penuh melatih. Dengan begitu, dia bisa membimbing rekan dan muridnya tampil lebih maksimal.

Kini, tarung derajat masih kurang promosi. Sehingga belum banyak yang mengenal dan menggelutinya, kata Yopie. Dia kini sedang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan Yayasan Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Sosial di Bandung, Selasa (27-12).

Menurut Yopie, yang kini menjadi satu-satunya pelatih tarung derajat di Lampung, untuk menggemakan olahraga tersebut perlu pendekatan khusus. Salah satunya dengan cara persuasif dan tingkah laku.

Tarung derajat merupakan olahraga sangat keras karena kontak langsung. Tetapi, olahraga itu banyak mengandung filosofi yang kuat untuk menapaki kehidupan, kata dia, yang pada PON 2004 di Palembang sempat patah tulang hidung.

Yopie mengatakan lantaran tidak ada pelatih, dia mundur diri dari atlet pasca-PON Palembang. Sehingga dedikasinya kini sepenuhnya melatih di tiga satuan latihan (satlak), yakni Unila, SMA Adiguna, dan GOR Saburai.

Dia berharap Januari nanti jadi melatih Satuan Polisi Pamong Praja (Pol. PP) Kabupaten Tanggamus, sehingga diharapkan bisa mencetak petarung di semua kelas.

Menyinggung harapan perkembangan tarung derajat, Yopie ingin memenuhi semua kelas (9 kelas) dengan petarung binaannya yang terlatih dengan baik. Apalagi kalau fasilitas untuk latihan dan perhatian kepada atlet mencukupi.

Sebab itu, masih ada waktu dua tahun menyongsong PON 2008 di Kalimatan Timur, sehingga berbagai upaya mencari atlet terus dilakukan.

Selain itu, program Lampung Bangkit yang dicetuskan KONI Lampung sangat berarti. Sebab, banyak sekali atlet yang kemampuannya meningkat.

"Program Lampung Bangkit ini memberikan hasil positif, tinggal kita terus meningkatkan kualitas dan kuantitas latihan serta melakukan uji coba ke daerah lain," ujarnya.

Menyinggung peluang petarung putri, menurut dia, sangat terbuka meskipun pada PON nanti dibatasi hanya tiga kelas, yakni 52 kg ke bawah, kelas 53--58 kg, dan kelas 58 kg ke atas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar